Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 September 2017

Ngopi Malam : Amanah Selesai Menjadi Panitia Qurban 2017

Salam, tulisan ini mungki tidak sama sekali berbobot buat pembaca sekalian, disini saya hanya akan membagikan sedikit tetang apa yang saya rasakan di hari ini. (curhat)  jadi critanya pada hari ini kami telah mneyelesaikan kepanitiaan Qurban dengan ditutupnya LPJ alhamdulilah kepanitiaan Qurban 2017 berjalan dengan lancar, dan acara pada malam tadi pun sangat ramai di hadiri dosen, staf dan panitia,
(Poster Acara)

diatas adalah poster pengumuman yang saya buat dengan sagat mendadak,
dan pada intinya karena sibuk mengurus dan membantu persiapan tempat tidak ada momentum dokumen tasi yang bisa saya yampilkan disini, tapi yang jelas acara berjalan dengan lancar, dan akhirnya acara ditutup dengan penyerahan sertifikat kepanitiaan:


(Desain Sertifikat)



sengaja saya tempel desainya saja karna yang asli belum sempet saya scan, dan nanti kalau temen" sekalian mau file mentahnya bisa saya sharekan.


Beberapa Foto Ketika Acara:






Read more

Minggu, 04 Desember 2016

Arti Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor Dalam Konteks Kekinian

Pondok adalah lembaga pendidikan yang bukan hanya mengajarkan akademis, namun juga mendidik mental dan akhlaq. Gontor, sebuah nama yang banyak dikenal orang dan lebih familiar daripada Darussalam. Namun hakikatnya nama resmi Gontor adalah Darussalam, kampung nan damai. Karna pendiri pondok bercita-cita agar pondok ini akan selalu menjadi kampung halaman yang penuh kedamaian bagai surga yang selalu dirindukan setiap orang.
Gontor bukanlah pondok milik perorangan. Namun Gontor adalah sebuah pondok yang diwakafkan untuk umat, berdiri diatas dan untuk semua golongan. Maka ia patut untuk dibela, dibantu dan diperjuangkan.
Kini dunia telah melangkah menuju kemodernan, ditandai dengan perkembangan seluruh fasilitas dan media yang semakin mempermudah segala urusan manusia untuk meraih dunia. Namun apalah arti modern, jika kita belum mampu mencetak generasi penerus yang cerdas nan berakhlaq.
Generasi kita telah banyak yang mampu mewarisi secara materi, namun tak banyak dari generasi kita yang mewarisi dan mengestafetkan nilai luhur. Maka Gontor yang kini sedang melangkah menuju usia satu abad, terus berjuang demi mengestafetkan nilai-nilai perjuangan untuk kemuliaan umat. Berusaha untuk tetap hidup demi mencetak kader pemimpin, mencerdaskan dunia.
Peringatan 90 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, bukanlah sebuah ajang mencari gengsi di hadapan dunia. Namun ia adalah bentuk suatu kesyukuran. Kesyukuran atas perjuangan Gontor selama 90 tahun dalam dunia pendidikan, dan mewarnai bangsa nasional bahkan internasional dengan banyaknya alumni yang telah berhasil mengabdi di berbagai bidang kehidupan.
Peringatan ini bukan hanya sebuah kesyukuran, namun ia adalah sebuah jihad, perjuangan dan proses pendidikan. Ia juga merupakan sebuah dakwah, bahwa kemodernan bukan hanya sekedar memakai jas dan bersekolah digedung mewah, namun modern itu dalam hal sistem, cara berfikir, bekerja dan berbuat. Kemodernan adalah bagaimana kita mendidik generasi penerus untuk berjiwa besar, bermental, berakhlaq dan ikhlas dalam berjuang.
Peringatan ini membawa kita untuk menelusuri  besarnya perjuangan bapak trimurti dimasalalu dan mengajarkan kita arti sebuah keikhlasan demi sebuah perjuangan. Bagaimana beliau mengorbankan seluruh hartanya untuk merintis pondok ini, bahkan mengorbankan nyawanya agar pondok ini tetap bertahan. Jiwa ikhlas dan pengorbananlah yang menjadikan pondok ini semakin besar. Hingga kini semua yang hidup di Gontor selalu berjuang untuk semakin membesarkan pondok, didasari oleh cita-cita mulia trimurti untuk menciptakan 1000 Gontor didunia. Seperti yang pernah disampaikan oleh bapak pimpinan, “Saat kita membesarkan pondok, maka kita juga akan besar. Namun saat kita hanya membesarkan diri kita, maka kita tak akan pernah besar bahkan pondok juga tidak akan besar.”
Dari peringatan 90 tahun ini,  Gontor terus berusaha untuk mengembangkan diri dan berinovasi untuk bersiap dalam menghadapi tantangan dan dinamika zaman dengan nilai-nilai pendidikan dan pemikiran modern yang selama ini menjadi unggulannya.


__________________________________
Artikel ( Nurul Laili Ahmadah / PBA 5 )
Read more

Senin, 19 September 2016

MEMAKNAI HIJRAH DALAM ISLAM

Sejarah awal tahun Hijriah adalah berawal dari seorang tokoh yaitu Abu Musa Al-Asyari. Beliau adalah seorang Gubernur dimasa Khalifah Umar Bin Khattab ra, beliau diutus khalifah Umar untuk membuat kalender Hijriah, tapi hanya tertera tanggal dan bulan sehingga membingungkan. Kemudian Amirul Mukminin mengumpulkan beberapa para sahabat diantarannya adalah Ustman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, Abdurrahman bia Auf ra, Sa’ad bin Abi Waqas ra, Zubair bin Awwam ra, dan Thalhah bin Ubaidillah ra, untuk memusyawarahkan tentang penanggalan islam, ada yang mengusulkan kalender islam ditetapkan berdasarkan kelahiran Rasulullah SAW, ada juga berdasarkan Pengangkatan Nabi Muhammad Saw menjadi Rasul atau wafatnya  Rasulullah SAW.
Kemudian telah disepakati bersama berdasarkan usulan Ali bin Abi Thalib ra bahwa penetapan pertama kalender islam adalah berdasarkan Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah.
Bulan Muharram dapat diartikan juga sebagai tahun baru  Hijriah  bagi kaum Muslimin, dimana pada tahun ini kita sebagai umat Muslim harus lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya dengan pengertian lain bahwa tahun Hijriah adalah bulan peningkatan kualitas ibadah serta bulan pensucian diri, tetapi menurut worldview orang Jawa yang masih percaya dengan kesakralan bulan ini mereka menyebut sebagai bulan syuro yang penuh dengan keajaiban-keajaiban yang diyakini turun pada malam ini dengan prinsip mereka yaitu “Manunggaling Kawulo Gusti”.
Kepercayaan-kepercayaan mereka tidak dapat terkikis dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang sangat maju karena kepercayaan ini sudah mendarah daging dalam diri mereka, semoga kita termasuk orang-orang terhindar dari hal ini amin ya robbal alamin.
Maka dari itu kita harus benar-benar megetahui hakikat siapa sebenarnya kita apakah Muslim benar-benar sebagai jati diri kita ataukah hanya sekedar sebagai identitas saja, mari kita memaknai hakikat Hijrah dalam islam berdasarkan hadist berikut ini :
صح في الصحيحين ان النبي صلي الله عليه وسلم قال :" المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده والمهاجرمن هجر ما نهى الله عنه."
Berdasarkan hadits diatas dapat disimpulkan bahwa orang yang dikatakan Muslim sejati adalah
•    Orang yang kata-katanya didengar enak
•    Orang yang perkataannya bermanfaat
•    Orang yang perkataannya menyelamatkan
•    Orang yang perkataannya tidak menyakitkan
•    Orang yang perbuatannya tidak membahayakan
•    Orang yang perbuatannya bermanfaat bagi orang lain
Jadi orang  yang  benar-benar muslim harus tercipta dalam hatinya iman, islam dan ihsan yang saling berelasi dengan kuat dan harus bersih dari hal-hal yang merusak iman, islam dan ihsan.
Pada hakikatnya berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan larangan-larangan dari Allah SWT, esensi Hijrah bukanlah sekedar eksodus umat islam Makkah menuju Madinah melainkan untuk upaya penyelamatan ideologi bersama  dari serangan kaum kafir makkah.
Semoga ditahun baru Hijriah ini semangat berjuang kita untuk beribadah kepada Allah SWT semakin meningkat dan semoga di tahun ini kita lebih baik di banding dengan tahun Hijriah yang lalu amin ya robbal alamin....
Read more

Sabtu, 17 September 2016

STRATEGI ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DI UNIDA

STRATEGI  ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DI
 UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR
Sorce :
Moh. Isom Mudin

Salah satu dampak dari modernisasi dan sekularisasi adalah rancunya konsep ilmu yang membawa kerancuan dalam berbagai bidang yang lain.  hal ini karena, peradaban Barat memiliki konsep ilmu yang probelamatis. Seperti kesalahan makna ilmu, tujuan pencarian ilmu, dan hakikat ilmu itu sendiri. Memang, kita tidak menafikan beberapa sumbangan peradaban Barat telah menghasilkan ilmu yang bermanfaat. Namun, disisi lain tidak dinafikan pula bahwa peradaban tersebut telah menghasilkan ilmu yang telah merusak khususnya spiritual kehidupan manusia.

Beberapa tokoh barat telah menghilangkan unsure ketuhanan dalam konsep ilmu. Salah satu jargon René Descartes ‘aku berfikir maka aku ada’ (cogito ergo sum) menjadikan rasio sebagai satu-satunya kriteria kebenaran. David Hume menjadikan panca indera unsich sebagai sumber ilmu. Immanuel Kant (m. 1804) berpendapat pengetahuan adalah mungkin (knowledge is possible) dan metafisika adalah tidak mungkin karena tidak bersandarkan kepada panca indera, maka metafisika adalah ilusi transendent (a transcendental illusion). Hegel berpendapat bahwa pengetahuan adalah selalu berproses dan tidak menemukan titik akhir. Beberapa pemhanam ini membawa idiologi ateisme. Berbagai disiplin keilmuan, seperti dalam teologi, filsafat, sains, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi, dan lain-lain tidak terlepas dari faham ini.

Untuk menjawab tantangan ini maka diperlukan Islamisasi ilmu. Namun, islamisasi  bukan pekerjaan muda seperti labelisasi. Untuk itu, agar tidak terjebah dalam labelisasi ini, seseorang yang mengislamkan ilmu, ia perlu memenuhi pra-syarat, yaitu ia harus mampu mengidentifikasi pandangan-hidup Islam (the Islamic worldview) sekaligus mampu memahami budaya dan peradaban Barat. Pandangan-hidup dalam Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (the vision of reality and truth). Realitas dan kebenaran dalam Islam bukanlah  semata-mata fikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada di dalam konsep Barat sekular mengenai dunia, yang dibatasi kepada dunia yang dapat dilihat. Realitas dan kebenaran dimaknai berdasarkan kajian kepada metafisika terhadap dunia yang nampak dan tidak nampak.

Berlandaskan kepada ‘Shibbhah’ Allah, maka Universitas Darussalam Gontor mencita-citakan dirinya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang menjadi pusat Islamisasi Ilmu pengetahuan. Hal ini tertuang dalam filosofi pendirianya, yaitu  mengintegrasikan ilmu-ilmu pengetahuan alam dan kemanusiaan dengan ilmu-ilmu keislaman dalam rangka menghasilkan insan Indonesia yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berfikiran bebas. Untuk mencapai cita-cita ini, seluruh kegiatan keilmuwan civitas akademika mencirikan adanya semangat ini.

Sebenarnya, ada lembaga-lembaga lain yang bergerak dalam Islamisasi pengetahuan, baik berskala pusat penelitian atau menjadi Universitas. Ismail Raji al-Faruqi mendirikan International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Virgina pada tahun 1981. Sayyid Muhamad Naquib al-Attas mendirikan sebuah institusi pendidikan tinggi bernama International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur. Melalui institusi ini Al-Attas, kolega dan mahasiswanya melakukan kajian dan penelitian mengenai Pemikiran dan Peradaban Islam, serta memberikan respons yang kritis terhadap Peradaban Barat.  

Institut Studi Islam Darusslam (ISID) sebelum berubah menjadi UNIDA telah memulai gerakan Islamisasi pengetahuan dengan didirikanya Pusat Kajian Islam dan Barat; “Center for Islamic and Occidental Studies’. Pusat studi ini didirikan berdasarkan suatu pemikiran bahwa Islam adalah agama dan peradaban yang tidak dapat dipisahkan. Di sisi lain, islam dituntut berdialog dengan Barat. Memang,  Islam dalam sejarahnya selalu bersentuhan dengan peradaban asing dan mengambil manfaat dari beberapa elemen penting di dalamnya. Oleh sebab itu dialog antara Islam dan Barat perlu dilakukan dalam konteks pembelajaran dan pengayaan peradaban Islam.

Pusat Studi ini merupakan bentuk langkah konkret Islamisasi. Seluruh peneliti berupaya menggali kembali konsep-konsep penting  dalam Islam yang tertuang dalam pemikiran para ulama yang berotoritas. Disamping itu secara intens juga mengkaji secara kritis konsep-konsep penting dalam peradaban Barat. Dengan pendekatan ini diharapkan umat Islam mampu mengembangkan konsep-konsep Islam dalam berbagai bidang, baik itu ekonomi, pendidikan, politik, budaya, sains, sosial, dsb, namun tetap berpijak pada tradisi pemikiran dan peradaban Islam.

Upaya Islamsasi ini mencapai waktu yang tepat saat perubahan ISID menjadi Unida. Hal ini karena skala ilmu yang dipelajari lebih luas, bukan hanya ilmu-ilmu ‘fardlu ain’ yang tertuang dalam fakultas Ushuluddin, tarbiyyah dan Syariah, melainkan juga mempelajari ilmu fardlu kifayah yang tertuang dalam fakultas ilmu alam dan sosial. Dengan proyok Islamisasi , mahasiswa sains, teknologi, dan humaniora diharuskan untuk menguasai ilmu pengetahuan Islam. Begitu juga  mahasiswa bidang studi Islam dapat mempelajari sains dan humaniora dari sudut pandang Islam.

Untuk mematangkan proses aplikasi Islamisas, Unida mendidirikan lembaga khsusus yang diberi nama;  “Pusat Islamisasi Ilmu Universitas Darussalam Gontor. (Center of Islamization of Knowledge University of Darussalam Gontor”. Lembaga ini tidak berada dibawah naungan fakultas manapun. Adapaun langkah dan tahapan proses Islamisasi adalah sebagai berikut. Pertama, sosialisasi Islamisasi Ilmu kepada semua civitas akademika. Kedua, Integrasi dengan cara memasukkan materi-materi Dirasat Islamiyah kedalam materi prodi-prodi umum oleh Dosen-dosen Pengampu dari anggota Islamisasi Ilmu.
Adapun materi-materi Dirasat Islamiyah yang dimaksud adalah:, Worldview Islam, Studi al-Quran, Studi as-Sunnah, Sejarah Peradaban Islam Humaniora dan Saintek, Sejarah Peradaban Islam yang melipiti Kesehatan, Politik, Sainstek dan Ekonomi Islam,  Filsafat Ilmu Islam, Al-Quran dan al-Hadits  dan  Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Penyusunan materi dalam bentuk SAP disusun secara independent. Selain itu, Pusat islamisasi ini juga melakukan kajian kritis secara berkala terhadap metode-metode ilmu modern baik dalam konsep, teori-teori, simbol-simbol.
Secara praktis Pusat Islamisasi Ilmu memiliki berberapa program. Diantaranya adalah Merumuskan konsep Integrasi dan Islamisasi Ilmu, Merumuskan kurikulum materi-materi studi Islam pada prodi-prodi umum, menentukan dosen pengampu untuk materi-materi studi Islam di atas serta mengontrol pelaksanaan pengajaran materi-materi tersebut, menyusun buku ajar materi-materi Studi Islam pada prodi-prodi umum, menerbitkan buku, majalah, buletin dan penerbitan lainnya yang berkenaan dengan Islamisasi, mereview singkronisasi visi, misi, tujuan, profil prodi-prodi umum dengan visi, misi, tujuan Universitas terutama terkait dengan program integrasi dan Islamisasi Ilmu, mensosialisakan dan mentranformasikan Program Islamisasi ke Dosen dan Mahasiswa, Mengadakan seminar, workshop dan Mengadakan program mentoring untuk mahasiswa.

Selain Islamisasi di bidang Ilmu pengetahuan, islamisasi juga dilaksanakan diberbagai bidang seperti jiwa, prilaku, lembaga dan sistem, dan produk. Islamisasi Jiwa adalah menjadikan seluruh aspek dalam diri manusia selaras dengan worldview, prinsip-prinsip ajaran, nilai-nilai dan norma Islam. Islamisasi Prilaku adalah menjadikan seluruh aspek prilaku  seperti sikap, tindakan, tingkah laku, penampilan, tradisi, budaya selaras dengan worldview, prinsip-prinsip ajaran, nilai-nilai dan norma Islam. Begitu pula Islamisasi Lembaga dan Sistem adalah menjadikan seluruh aspek lembaga keuangan, managemen, pengembangan fisik, staff pengembangan dan kepegawaian , usaha bisnis dan administrasi selaras dengan worldview, prinsip-prinsip ajaran, nilai-nilai dan norma Islam.
 
Read more