Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 September 2017

Resensi Buku Filsafat Ilmu (Perspektif Barat dan Islam)

Judul buku      : Filsafat Ilmu (Perspektif Barat dan Islam)
Pengarang       : DR. Adian Husaini, et. al.
Tebal buku      : 292 (tidak termasuk halaman pendahuluan)
Penerbit           : Gema Insani
Buku yang disusun oleh pak Adian Husaini ini sejatinya kumpulan artikel-artikel yang dari beberapa tokoh pemikiran Islam yang menjadi rujukan para intelek-intelek muslim Indonesia. Pada buku yang satu ini secara khusus dibahas tentang asal muasal dari senuah Ilmu. Menjelaskan perjalanan ilmu hingga menjadi seperti sekarang ini.
Ilmu pengetahuan adalah suatu yang mutlak dan harus dimiliki orang untuk bisa mengrmbangkan kemampuannya dalam banyak aspek kehidupan  Dalam perspektif barat, barat sudah banyak membuat ilmu pengetahuan yang penting dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dalam pandangan Syed Muhammad Naquib Al-latas pengetahuan barat sudah merusak ilmu pengetahuan secara mendasar. Ilmu pengetahuan Barat dibuat berdasarkan tradisi dengan landasan filosofisnya yang merusak dasar penurunan ilmu pengetahuan yaitu dari wahyu tuhan. Pengetahuan Barat hanya didasarkan oleh rasionalitas pemikiran manusia dan sangat mengesampaikan aspek wahyu di dalamnya.
Sejatinya dalam Islam terdapat rasionalitas dalam berpikir. Namun, dalam menggunakan kapasitas dalam perspektif Islam tidak memisahkan antara rasional dan penurunan wahyu, itulah yang disebut filsafat Islam sekaligus yang membedakan dengan filsafat Barat.
Dalam ilmu filsafat terdapat secara khusus cabangnya yang mempelajari tentang ilmu pengetahuan yaitu epistemologi. Dalam Islam tentunya epistemogi juga dipelajari secara detail terkait dengan penurunan perdana sampai tataran pembahasan detailnya. Dalam perspektif Islam ilmu diprioritaskan untuk dikuasai. Hal ini terlihat ketika wahyu pertama-tama turun. Wahyu pertama ini menjelaskan tentang urgensi ilmu pengetahuan untuk memperbaiki kelayakan hidup manusia, melalui baca tulis. Dari surat Al-‘alaq sampai surat  Al-Qalam yang merupakan wahyu yang pertama-tama turun membahas tentang pentingnya pengetahuan.
Ilmu dalam Islam itu adalah sebuah himbauan, petunjuk, dan larangan oleh karena itu ilmu dalam Islam sudah sangat komprehensif. Menuntut ilmu agama dalam Islam adalah fardhu ‘ain yang harus dilakukan setiap individu. Tujuannya adalah untuk membentuk pribadi-pribadi yang semakin taat ketika bertambah ilmunya. Hal ini juga relevan dengan kenyataan yang terjadi sekarang yaitu ketika seseorang itu mempelajari ilmu lain selain ilmu agama, ilmu pengetahuan misalnya, itu akan menjauhkan dari Allah.  Hal itu berbanding terbalik dengan tujuan ilmu yang seharusnya.
Read more

Selasa, 29 November 2016

Belajar Dai Nabi Ibrahim A.S

Ibrahim dan Ismail merupakan utusan Allah SWT yang darinya tumbuh generasi-generasi pilihan.

Ajaran Ibrahim AS sampai sekarang masih kekal dan diamalkan umat Islam, salah satunya yaitu melaksanakan ibadah kurban pada 10 Dzulhijah dan pada hari-hari tasyrik. Bentuk pengorbanan berupa ibadah kurban yang dimulai pada zaman Ibrahim dengan mengorbankan putranya, Ismail, bukanlah pengorbanan yang kecil.

Setelah beberapa lama belum dianugerahi putra, akhirnya Allah SWT mengabulkan doa Ibrahim dengan menganugerahinya seorang putra bernama Ismail. Namun, setelah Ismail mencapai usia remaja, Allah SWT memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih putranya itu.

Ibrahim yang sudah sangat lama mendambakan seorang putra harus dihadapkan pada sebuah kenyataan yang sangat dilematis, yaitu harus menyembelih anaknya. Jika tidak ada keyakinan yang kuat di antara kedua manusia saleh ini, pastilah tidak akan terjadi pengabdian yang total atas perintah Allah SWT.

Ibrahim dan Ismail begitu yakin pada perintah Allah SWT. Ismail pun yakin sang ayah tak akan mencelakainya. Apa yang bisa diambil pelajaran dari perjalanan Ibrahim dan Ismail?

Pertama, kedekatan orang tua dan anak mampu menumbuhkan rasa saling percaya yang kuat dalam ketaatan kepada Allah SWT sehingga menjadikan sebuah pengorbanan besar itu bisa dilaksanakan dengan totalitas tanpa keraguan sedikit pun.

"....Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang Diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS al-Shafat: 102). Tidak ada penolakan sama sekali dari Ismail atas perintah penyembelihan itu.

Kedua, keberanian berkorban Ismail pada usia belia karena berada dalam bimbingan Ibrahim sebagai orang tua yang pantas dipercaya. Kepercayaan seseorang bisa menjadi bekal lahirnya pengorbanan.

Bagaimana mau berkorban jika keyakinan dan kepercayaan tidak ada. Mengajarkan dan memberikan contoh berkorban terhadap anak sejak awal merupakan investasi untuk masa depan anak.

Bahkan keluarga, bukan sekadar untuk mendapatkan pahala, melainkan juga untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik karena sebelumnya dibiasakan sikap ikhlas untuk berkorban.

Berkorban waktu untuk beribadah, belajar, membantu orang tua, membantu dan menolong sesama, sehingga nantinya memiliki life skilldan soft skill sebagai bekal bidup.

Ketiga, orang tualah yang mengajak dan memberikan contoh, melatih putra-putrinya untuk berkorban sejak dini agar nanti di kemudian bisa terbiasa.

Semoga kita tidak kesulitan dalam mengajak putra-putri kita dalam melakukan kebaikan karena kita sudah membangun kepercayaan dan keyakinan yang kuat dengan keluarga dan putra-putri kita.

Berguru kepada Ibrahim dan Ismail tentang berkorban adalah belajar bagaimana membangun keyakinan dan kepercayaan serta berkorban dengan ikhlas terhadap Allah SWT serta membangun sikap saling percaya yang dibangun dalam keluarga dengan ikatan tauhid.

Dengan sikap saling percaya itulah sikap berkorban akan mudah ditunaikan minimal di lingkungan keluarga, terlebih di masyarakat. Berani berkorban sejak dini berarti berani untuk mendapatkan kebaikan dan mudah untuk berkorban di saat dewasa nanti. Wallahu'alam.

Allah SWT melalui Alquran memerintahkan Muhammad SAW agar mengikuti agama Ibrahim yang hanif, seperti difirmankan dalam surah an-Nahl ayat 123, “Kemudian Kami Wahyukan kepadamu (Muhammad), ikutilah agama Ibrahim yang hanif, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.”
Read more

Kamis, 29 September 2016

OPEN WRITING : BUKU MOTIVASI DAN INSPIRASI

OPEN WRITING
Penulisan Naskah Terbuka

Buat Kamu yang suka Nulis...
Pengin Bikin Buku
tapi kurang konsisten..
Punya arikel / tulisan belum
pernah terbit...

Kini Saatnya berkarya dan Tulisan kamu akan :
Diterbitkan
Dibaca Banyak Orang
Dikenang
Dan Menginspirasi

Genre Buku :
Isnpirasi, Keluarga, Motivasi Remaja, Kisah Inspiratif, Pendidikan , Pengalaman.

Format Penulisan :
a. Tulisan Ketik, Kertas A4, Space 1, font Times New Roman
b. Jarak antar baris tulisan menggunakan spasi 1 dengan margin masing masing 2
c. Tulisan Sesuai dengan Tema / Genre buku yang akan di terbitkan
d. Dilengkapi refrensi yang cukup (jika ada)
e. Maksimal Pengiriman 3 Artikel

KIRIM
Kirim Tulisan Kamu ke Email
penaku.id@gmail.com
Lampirkan CV / Biodata yah..:)
Batas Pengiriman Sampai Bulan Desember

Bagi yang berminat menjadi kontributor
dan namanya dimuat di buku kirim artikel
dan kamu akan di masukan ke Gropu Whatsapp
Khusus Kontributor

Ketik :
Penak#Nama#Daerah#Umur
kirim ke 083863100272

Info : Ady 083863100272

#BAM
#berbagisemangat
#penaku.id
#ayomenulis
Read more

Rabu, 21 September 2016

Khutbah Jum'at | أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ



أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ
الْخُطْبَةُ الأُولَى
اْلَحمْدُ للهِ، اْلَحمْدَ للهِ الَّذِى نَحْمَدُهُ ونَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَشْكُرُهُ وَنَعُوْذُ باِللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِّلَ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ ورَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:( وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ)(آل عمران : 133).
أَيُّهَا الْمُصَلُّون،َ قَالَ تَعَالَى:( مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)(الأنعام: 160) فَهَنِيئًا لِمَنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِعَمَلِ الصَّالِحَاتِ، وَالتَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِالإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ، وَقَضَاءِ حَوَائِجِهِمْ، وَالْعَمَلِ عَلَى نَفْعِهِمْ، وَإِسْدَاءِ الْمَعْرُوفِ إِلَيْهِمْ، فَإِنَّ أَحَبَّ الْخَلْقِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَكْثَرُهُمْ نَفْعًا لِلْخَلاَئِقِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص.م.« أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»(الطبراني في الأوسط : 6/139 والصغير 2/106) فَمَا أَعْظَمَ كَرَمَهُ سُبْحَانَهُ، فَهُوَ الْمُعْطِي الْكَرِيمُ، يُجْرِي حَاجَةَ أَخِيكَ عَلَى يَدَيْكَ لِتَقْضِيَهَا لَهُ، وَيَجْزِيَكَ عَلَى ذَلِكَ بِالثَّوَابِ الْعَظِيمِ، وَقَدْ رَغَّبَ رَسُولُ اللَّهِ ص.م. فِي فَضِيلَةِ قَضَاءِ الْحَوَائِجِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص.م. :« الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ»(متفق عليه)
وَقَالَ النَّبِيُّ ص.م. :« مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ»(مسلم : 2699) قَالَ الْعُلَمَاءُ: وَذَلِكَ دَلِيلٌ عَلَى فَضْلِ تَقْدِيمِ الْعَوْنِ لِلْمُحْتَاجِ، وَالسَّعْيِ فِي قَضَاءِ حَاجَتِهِ بِمَا يَدْفَعُ عَنْهُ الْمَضَارَّ أَوْ يَجْلِبُ لَهُ الْمَنَافِعَ، كَأَنْ يُطْعِمَهُ أَوْ يَسْقِيَهِ أَوْ يَكْسُوَهُ، أَوْ يُنْقِذَهُ مِنْ مَهْلَكَةٍ، أَوْ يَحْمِلَ مَتَاعَهُ، أَوْ يُدْخِلَ السُّرُورَ عَلَى قَلْبِهِ.
جَمَاعَة المُصَلِينَ رَحِمَكُمُ اللهِ: إِنَّ مَدَّ يَدِ الْعَوْنِ لِلْمُحْتَاجِينَ، وَالسَّعْيَ فِي إِغَاثَةِ الْمَلْهُوفِينَ، فِطْرَةٌ رَبَّانِيَّةٌ، وَسَجِيَّةٌ إِنْسَانِيَّةٌ، يَتَخَلَّقُ بِهَا أُولُو الْفَضْلِ مِنَ الْبَشَرِ، فَلَقَدْ كَانَ الأَنْبِيَاءُ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ أَسْرَعَ النَّاسِ تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِبَذْلِ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ، وَالْعَمَلِ عَلَى نَفْعِهِمْ، فَهَذَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، بَلَغَ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً عَظِيمَةً بِحُبِّهِ لِلْخَيْرِ وَنَفْعِهِ لِلنَّاسِ. فعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ص.م. : يَا جِبْرِيلُ لِمَ اتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا؟ قَالَ: لِإِطْعَامِهِ الطَّعَامَ يَا مُحَمَّدُ(شعب الإيمان (12/ 137) وتفسير القرطبي: 5/401).
وَهَذَا نَبِيُّ اللَّهِ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ يُعِينُ الضُّعَفَاءَ وَالْمُحْتَاجِينَ، وَذَكَرَ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ سِقَايَتَهُ لاِبْنَتَيْ شُعَيْبٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ؛ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ:( وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ* فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ)(القصص:23-24) وَكَانَ نَبِيُّ اللَّهِ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَسْعَى فِي حَاجَةِ الْمَرْضَى وَمُسَاعَدَةِ الْفُقَرَاءِ، وَيَنْفَعُ النَّاسَ أَيْنَمَا كَانَ، قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ حِكَايَةً عَنْهُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ:( وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَمَا كُنتُ)(مريم:31) أَيْ جَعَلَنِي نَافِعًا لِلنَّاسِ أَيْنَمَا تَوَجَّهْتُ.
وَكَانَ النَّبِيُّ ص.م. الْمَثَلَ الأَعْلَى فِي قَضَاءِ حَوَائِجِ النَّاسِ يَمْشِي مَعَ الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ فَيَقْضِي لَهُمَا حَاجَتَهُمَا(النسائي : 1414 ، والدارمي : 75 واللفظ له)، وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ص.م. يَنْزِلُ عَنْ الْمِنْبَرِ، فَيَعْرِضُ لَهُ الرَّجُلُ فَيُكَلِّمُهُ، فَيَقُومُ مَعَهُ النَّبِيُّ ص.م. حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ، ثُمَّ يَتَقَدَّمُ إِلَى مُصَلَّاهُ فَيُصَلِّي(أبو داود: 1120، والنسائي : 1419).
وَكَذَلِكَ حَرَصَ الَّذِينَ اقْتَدَوْا بِالأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ عَلَى التَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِالْعَمَلِ التَّطَوُّعِي الإِنْسَانِيِّ, فَهَذِهِ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ السَّيِّدَةُ زَيْنَبُ زَوْجُ النَّبِيِّ ص.م. كَانَتْ تُسَمَّى بِأُمِّ الْمَسَاكِينِ، وَكَانَتْ تَعْمَلُ بِيَدِهَا لِتَتَصَدَّقَ، تَقُولُ عَنْهَا السَّيِّدَةُ عَائِشَةُ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ: كَانَتْ أَطْوَلَنَا يَدًا زَيْنَبُ، لِأَنَّهَا كَانَتْ تَعْمَلُ بِيَدِهَا وَتَصَدَّقُ، وقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص.م. :« أَسْرَعُكُنَّ لَحَاقًا بِي أَطْوَلُكُنَّ يَدًا»(مسلم (4/1907). أَيْ بِالصَّدَقَةِ.
عِبَادَ اللَّهِ: يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ:( وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا)( المزمل: 20) أَيْ: وَمَا تُقَدِّمُوا لأَنْفُسِكُمْ فِي دَارِ الدُّنْيَا مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ وُجُوهِ الْخَيْرِ فِي طَلَبِ مَا عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى، تَجِدُوهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، هُوَ خَيْرًا لَكُمْ مِمَّا قَدَّمْتُمْ، وَأَعْظَمَ مِنْهُ ثَوَابًا(تفسير الطبري 23/700).
فَيَا سَعَادَةَ مَنْ أَوْدَعَ اللَّهُ تَعَالَى فِي قَلْبِهِ حُبَّ الْخَيْرِ، فَأَدْخَلَ السُّرُورَ عَلَى الْفُقَرَاءِ، وَرَسَمَ الْبَسْمَةَ عَلَى وُجُوهِ الْمُحْتَاجِينَ، وَقَضَى حَاجَةَ الضُّعَفَاءِ، فَكَانَ سَبَبًا فِي يَنَابِيعِ الْعَطَاءِ، فَنَالَ بِذَلِكَ الثَّوَابَ الْكَرِيمَ، يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ ص.م. :« مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ كُتِبَتْ لَهُ بِسَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ»( الترمذي: 1625 والنسائي: 3186). وَلْيَسْأَلْ كُلٌّ مِنَّا نَفْسَهُ أَيْنَ هُوَ مِنْ هَذِهِ الْقُدُوَاتِ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي نَفْعِ النَّاسِ وَالْمُجْتَمَعِ؟ وَمَاذَا قَدَّمَ قَدْرَ اسْتِطَاعَتِهِ فِي مَوْقِعِهِ مِنْ نَفْعٍ خِدْمَةً لِلنَّاسِ؟
فَاللَّهُمَّ اهْدِنَا لِعَمَلِ الصَّالِحَاتِ، وَاجْعَلَنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرَاتِ، وَارْزُقْنَا التَّنَافُسَ فِي مَيَادِينِ الْجُودِ وَالإِحْسَانِ وَالْقُرُبَاتِ, وَوَفِّقْنَا جَمِيعًا لِطَاعَتِكَ وَطَاعَةِ رَسُولِكَ مُحَمَّدٍ ص.م. وَطَاعَةِ مَنْ أَمَرْتَنَا بِطَاعَتِهِ, عَمَلاً بِقَوْلِكَ:( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ)(النساء: 59).
نَفَعَنِيَ اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Hadirin yang berbahagia, poin yang bisa kita ambil dari khutbah tadi adalah :
1.      Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah menggembirakan seorang muslim, atau menjauhkan kesusahan darinya, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan laparnya.
2.      Sesungguhnya pembalasan disisi Allah sesuai dengan jenis perbuatannya.
3.      Orang besar menurut Gontor adalah orang-orang yang rela dan sanggup mengajar di surau-surau kecil, yang berada di desa-desa terpencil seperti teman-teman kita yang mengajar di TPA-TPA.

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَريْمِ فَقَالَ:إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً. اللَّـهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ إنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأمْوَاتِ
اللّهُمَّ إنَّا دَعَوْنَاكَ فَاسْتَجِبْ لَنَا دُعَاءَنَا. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنِاَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنَا حُبَّكَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبُّ إِلَيْنَا مِنْ أَنْفُسِنَا وَأَهْلِنَا
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلَا مُضِّلِيْنَ. اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وآمِنْ رَوْعَاتِنَا وَاكَفِّنَا مَا أَهَمَّنَا وَقِنَا شَرَّ مَا نَتَخَوَّفُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النارِ
عبادَ اللهِ
إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
اذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ يَزِدْكُمْ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ الله ِأَكْبَرْ، أَقِمِ الصَّلَّاةَ.
Read more

Materi Khutbah Jum'at Full : Tema Liberal


إن الحمد لله  نحمده و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور أنفسنا و سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له و من يضلله فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده و رسوله. يأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن إلا و أنتم مسلمون. يأيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة و خلق منها زوجها و بث منهما رجالا كثيرا و نساء و اتقوا الله الذي تساءلون به و الأرحام إن الله كان عليكم رقيبا. يأيها الذين آمنوا اتقوا الله و قولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم و يغفر لكم ذنوبكم و من يطع الله و رسوله فقد فاز فوزا عظيما. ألا فإن أصدق الحديث كتاب الله و خير الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم و شر الأمور محدثاتها و كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة  و كل ضلالة في النار. اللهم فصل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.

قال الله تعالى: وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ


            Kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala …

            Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

( آل عمران : 85 ){وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ}

            “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran: 85)

            Zaman modern yang identik dengan keterbukaan dan kebebasan, memiliki nilai positif, namun tidak sedikit efek negatif yang ditimbulkan. Invasi pemikiran yang disuarakan oleh para pejuang orientalisme dan liberalisme merupakan salah satu efek negatif di era demokrasi ini. Setiap Muslim perlu waspada terhadap paham liberalisme yang didefinisikan sebagai paham materialistik. Yaitu Paham yang mendakwakan kebebasan mutlak dan tak terbatasi oleh sekat apapun, baik dalam dunia politik maupun ekonomi. Selain itu paham ini juga mengajak kelompok lain untuk mengikuti pendapat mereka meskipun bertentangan dengan prinsip-prinsip keyakinan kita. Intinya paham liberalisme mengusung kebebasan berakidah, kebebasan untuk menjadi kafir, kebebasan berperilaku dan kebebasan melakoni berbagai kejahatan dan perbuatan dosa.

            Sesuai dengan asal kata dari paham liberal yang berasal dari kata “Liber”, dalam bahasa latin bermakna kebebasan, maka tidak heran jika paham liberal, menurut mereka bergerak di tengah masyarakat dan berjuang untuk membebaskan manusia dari berbagai macam aturan dan undang-undang moral yang membelenggu. Paham ini memberikan kebebasan tak terbatas kepada setiap individu untuk mengekspresikan eksistensi dirinya selama masih dalam ruang pribadinya dan tidak mengganggu zona nyaman orang lain.

            Sehingga, menurut paham liberal setiap orang berhak menentukan arah dan caranya menjalani  kehidupan pribadinya. Seseorang diberikan ruang untuk menjadi jahat dan bermoral bejat, pezina, pemabuk, selama dia tidak mengganggu kepentingan orang lain.

            Kebebasan individu menurut paham ini merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan tertinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan itu sendiri. Manusia seharusnya dijauhkan dari keterbelengguan berbagai macam aturan moral, kenegaraan dan aturan-aturan keagamaan. Karena sejak terlahir ke dunia ini manusia telah ditakdirkan sebagai pribadi yang bebas dan merdeka. Dia diberikan hak untuk menentukan hidup dan bagaimana cara menjalaninya, hak untuk memilih keyakinan dan perilaku sesuai dengan kesenangan dan kebutuhannya.

            Ajaran liberal tidak lain dan tak bukan hanya sekadar memberikan kebebasan mutlak kepada setiap individu. Kebebasan dan kehendak ibarat dua mata uang yang tak dapat dipisahkan satu sama lain dalam paham liberal. Kedua prinsip ini diamini oleh semua pengusung paham liberal sekalipun dalam praktik dan hasil kadang ditemukan perbedaan di antara mereka.

            Kaum Muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala…

            Sangat disayangkan lagi memiriskan hati ketika kita melihat beberapa orang dari kalangan kaum Muslimin yang bangkit mengusung paham liberal setelah diberikan sedikit sentuhan dan racikan dengan menambahkan kata-kata Islam di belakangnya. Mereka tidak sadar bahwa istilah liberal Islami mengandung pelanggaran syariat, sebab Islam tidak boleh dan tidak bisa dinisbahkan kepada selain wahyu dari Al-Qur’an dan sunnah. Islam tidak boleh di gabungkan dengan paham liberal yang murni bersumber dari pikiran dan olah logika para pencetus dan pengusungnya. Islam adalah sebuah ajaran suci dan bersih serta tidak terintervensi oleh pemikiran atau kepentingan siapa pun termasuk oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena beliau hanya bertugas sebagai penyampai risalah. Kalaupun ada ajaran Islam yang bersumber dari ijtihad beliau maka itu tidak keluar dari wahyu dan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga dapat dijamin bahwa Islam ini hanya bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

}وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى* إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى { (النجم: 3-4) 

            “Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An Najm: 3-4)

            Berbagai sekte dan aliran pemikiran Islam yang bermunculan saat ini terutama mereka yang mengusung paham liberal Islam, senantiasa mempengaruhi dan berupaya untuk menjauhkan umat dari pengaruh para ulama. Alasannya, perlu ada pemisahan antara pendapat ulama sebagai individu dengan ajaran Islam itu sendiri. Pendapat ulama tidak dapat dijamin kesahihan dan kesesuaiannya dengan ajaran Islam, sehingga tidak menjamin kesesuaian dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara menusia hanya diperintahkan untuk mengikuti apa yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alasan ini jika diteliti dengan seksama seharusnya tidak dapat diterima. Sebab logika yang digunakan seharusnya dapat digunakan dalam pemikiran mereka. Artinya, logika pemikiran yang mereka kemukakan juga tidak dapat dijamin kebenaran dan kesuaiannya dengan ajaran Islam. Sehingga umat Islam diberikan kebebasan untuk tidak menerima, dan hukum kemungkinan pun dapat diterapkan pada pemikiran mereka. Ada kemungkinan pemikiran mereka benar namun besar kemungkinan pemikiran mereka juga salah.

            Banyak upaya kaum liberalis Islam dalam menyesatkan umat Islam. Mereka meneriakkan seruan untuk mereinterpretasi dan merekonstruksi nash-nash baku dalam ajaran Islam terutama nash-nash Al-Qur’an. Mereka menganjurkan untuk tidak lagi berpatokan pada penafsiran ulama-ulama terdahulu, karena hanya dengan seperti itu prinsip kebebasan kaum liberal Islam dapat terwujud, terutama kebebasan berpendapat, berekspresi serta kebebasan memilih keyakinan dan agama.

            Bahaya pemikiran liberal adalah anggapan para pengusungnya bahwa dengan mewujudkan kebebasan individu berarti seseorang telah memiliki tingkat keimanan yang tinggi lagi sempurna. Sungguh sangat menyedihkan telah banyak di kalangan  pemuda yang tertipu dan terpedaya dengan anggapan semacam ini. Mereka yang tidak memiliki latar belakang ilmu syar’i dalam masalah akidah dan syari’ah yang kuat, dengan semangat dan bangganya memproklamirkan diri sebagai seorang liberalis Islam. Tidak hanya sebatas itu mereka juga giat mendakwahkan dan melakukan upaya perekrutan kader, seakan-akan mereka mengatakan, ”Jadilah kalian penganut paham liberal agar kalian menjadi Muslim yang kaffah. Janganlah kalian menjadi orang-orang yang berpegang teguh kepada tali agama umat Muslim terdahulu dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’iun dan orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka.”

            Bahaya lain adalah akidah liberal dibangun atas dasar kebebasan. Kebebasan dalam berakidah, beribadah, berperilaku, berinteraksi, membangun hubungan dengan pihak lain dan kebebasan-kebebasan lainnya. Akidah ini membuka ruang bagi para pengambil kebijakan dan pembuat aturan perundang-undangan di berbagai negara untuk tidak memproduksi peraturan yang mengekang dan membatasi kebebasan dan ruang gerak individu. Baik aturan yang bersumber dari ajaran agama, adat kebiasaan masyarakat, atau aturan moral dan etika yang berlaku di masyarakat. Selama individu itu tidak mengganggu kebebasan dan hak privasi orang lain, maka tidak ada pelanggaran. Sehingga tidak diperlukan sebuah aturan atau undang-undang yang mengikat.

            Sebagai gambaran dan ilustrasi ekstrimnya, seorang penganut liberal tidak melarang seorang pemuda menikahi saudari perempuannya, atau ibu kandungya, atau anak perempuannya, atau bahkan berzina dengan mereka selama dilakukan atas dasar suka sama suka. Pemerintah sebagai pelayan dan pengayom masyarakat tidak berhak untuk melarang. Bahkan sebaliknya pemerintah harus membuka ruang, memberikan bantuan dan perlindungan hukum bagi mereka yang mau atau telah melakukannya. Menurut mereka, kebebasan bercinta dan melampiaskan kebutuhan seksual termasuk kebebasan memilih pasangan saat bercinta telah menjadi fitrah dasar manusia, sehingga istilah perselingkuhan atau perzinaan menjadi tidak populis bagi mereka. Pelarangan praktik dan bisnis prostitusi tidak relevan dan tidak perlu ada. Masyarakat juga dilarang untuk mencibir dan menganggap hina para wanita yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) alias penjajak diri.

            Mungkin sebagian mereka merasa malu atau takut hukuman moral dari masyarakat, sehingga mereka dengan lantang menentang logika di atas. Akan tetapi seharusnya ia sadar bahwa logika di atas menjadi konsekuensi dari prinsip kebebasan yang tidak terarah. Bukankah pelarangan menikahi saudari perempuan atau ibu atau anak gadis bersumber dari ajaran agama dan hukum adat dan etika dasar dalam masyarakat? Bukankah kehinaan perbuatan zina bersumber dari ajaran agama dan hukum masyarakat? Bukankah cibiran yang tertuju kepada para pezina dipicu oleh keberanian melanggar aturan Allah dan RasulNya serta kultur atau budaya masyarakat yang bersih dan fitrawi?

          Kebebasan mengekspresikan perasaan cinta dan pelampiasan nafsu seksual juga menjadi legalitas terhadap praktik homoseksual dan lesbi yang diperjuangkan oleh kaum liberal. Tidak heran jika banyak akademisi yang berkoar-koar menyerukan pembelaan terhadap kaum homo dan umat lesbi. Akan tetapi mereka melarang anak pria dan anak perempuan mereka ikut terlibat dalam praktik homo dan lesbi. Mereka mengatakan saya melarang anak saya ikut melakoni perilaku homo atau lesbi sebagai bentuk pertanggungjawaban saya sebagai seorang ibu atau bapak. Namun saya membolehkan prilaku tersebut bagi orang lain sebagai konsekuensi, sekaligus bukti keberpihakan saya terhadap hak kebebasan individu yang tak terbatas. Atau dengan kata lain ia mengatakan, “saya tidak boleh melakukan perzinaan atau selingkuh selama saya berada di dalam rumah untuk menghindari kemarahan dan reaksi emosi suami atau istri dan anak-anak saya. Namun saya bebas melakukannya saat saya telah berada di luar rumah karena itulah prinsip dan keyakinan hidup saya.” Sungguh sebuah cara berpikir atau logika yang tidak logis dan tidak sehat.

            Bagi kaum liberal tidak masalah seseorang berpindah-pindah agama. Boleh saja di pagi hari ia Muslim, di siang hari ia menganut agama Kristen, di sore hari ia beralih ke agama yahudi, di malam hari menjadi penganut agama hindu atau budha, di malam hari menjadi atheis pun tidak masalah baginya. Menggabungkan tiga bentuk ritual dari ketiga agama yang berbeda dalam satu waktu juga tidak perlu dipermasalahkan. Bagi mereka tidak penting seseorang disebut Muslim atau nashrani atau yahudi atau sebutan-sebutan religius lainnya.

            Inilah beberapa bentuk bahaya yang terkandung dalam pemikiran liberal. Hendaknya setiap masyarakat dan pemerintah waspada terhadap pemikiran semacam ini. Mereka tidak pantas diberikan ruang gerak, sehingga mereka leluasa menghembuskan propaganda pemikiran sesat. Sebaliknya mereka harus diperangi jika mereka tidak bisa diubah dengan jalan dakwah dan damai. Semoga AllahSubhanahu wa Ta’ala mwnjaga umat ini dari keburukan dan kejahatan virus pemikiran liberal yang telah masuk sampai ke pelosok desa di semua negara.

أقول قولي هذا و أستغفر الله لي و لكم و لسائر المسلمين و المسلمات من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم


Khutbah Kedua

الحمد  لله على إحسانه و الشكر له على توفيقه و امتنانه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه و أشهد أن محمدا عبده و رسوله الداعي إلى رضوانه. اللهم فصل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.


            Jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala…          

            Pemikiran liberal memberikan kebebasan tak terbatas bagi manusia terutama dalam makanan, minuman, pakaian, dan pola interkasi mereka. Mereka tidak membedakan antara minuman jus yang terbuat dari buah-buahan yang segar dengan minuman anggur yang memabukkan atau yang semisalnya, selama tidak menggaggu ketentraman orang lain. Mereka juga menganggap tidak ada perbedaan antara wanita yang berpakaian rapi dengan wanita yang hanya mengenakan bikini di depan para pria, bahkan kadang “telanjang “pun bagi mereka jauh lebih baik. Demikian pula dengan makanan antara makanan halal dengan makanan haram tidak ada perbedaan. Kebebasan adalah hak dasar manusia yang tidak boleh dibatasi aturan apapun atau oleh siapapun.

            Sejalan dengan pemikiran liberal, paham sekularisme juga telah merambah sampai ke desa-desa. Paham ini berupaya untuk memisahkan antara persoalan keagamaan dengan persoalan-persoalan kenegaraan, Di samping itu paham ini juga berusaha untuk mentarbiyah manusia agar menjadi hamba dunia. Segala potensi dan kemampuan disalurkan untuk mendapatkan kesenagan duniawi semata, sementara kehidupan akhirat tak pernah terlintas di benak dan fikiran mereka, bahkan kalau bisa dihilangkan dari memori mereka.

            Allah Subhanahu wa Ta’ala mengecam dan mengancam para penganut paham sekularisme dalam firman-Nya,

 }    أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ{ (البقرة: 85) 

            “Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (Al-Baqarah: 85)

            di ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ* أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } ( هود : 15-16 ) 

            “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (Huud: 15-16)

            Ada dua aliran utama dalam paham sekularisme dan keduanya sama bahaya dan kejahatannya. Kedua aliran tersebut adalah:

            Pertama, sekularisme yang beraliran atheisme. Yaitu sekularisme yang mengingkari eksistensi agama secara total, mengingkari keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai pencipta, pemberi rezeki dan pengatur kehidupan. Mereka bahkan memerangi orang-orang yang mengimani wujudnya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Paham sesat ini tidak mendapatkan respon dari manusia secara umum, sebab nilai-nilai kekafiran yang terkandung oleh paham ini sangat jelas dan gamblang.

            Kedua, sekularisme non atheism. Yaitu aliran sekularisme yang tidak mengingkari adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai pencipta bahkan sebaliknya mereka mengimani akan adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya saja, mereka menolak jika hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dijadikan sebagai aturan dalam menjalani kehidupan dunia. Mereka berupaya agar ada pemisahan antara agama dengan urusan dunia. Paham ini lebih berbahaya dibandingkan dengan aliran pertama.

            Kedua aliran tersebut merupakan bentuk kekafiran yang nyata dan semua yang rela menerima paham ini atau bahkan menyebarkannya kepada orang lain berarti telah keluar dari Islam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Baqarah: ayat 85 di atas.

فاعلموا أن الله أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه و ثنى بملائكته المسبحة بقدسه و ثلث بكم أيها المسلمون فقال عز من قائل إن الله و ملائكته يصلون على النبي يأيها الذين آمنوا صلوا عليه و سلموا تسليما. اللهم صل و سلم على نبينا محمد و عل آله و صحابته و من اهتدى بهديه و استن بسنته إلى يوم الدين. ثم اللهم ارض عن الخلفاء الراشدين المهديين أبي بكر و عمر و عثمان و علي و على بقية الصحابة و التابعين و تابع التابعين و علينا معهم برحمتك ي أرحم الرحمين.

اللهم إنا نسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك أو  علمته أحدا من خلقك أو استأثرته في علم الغيب عندك أن تجعل القرآن ربيع قلوبنا و نور صدورنا و جلاء أحزاننا و ذهاب همومنا و غمومنا

اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات و المؤمين و المؤمنات الأحياء منهم و الأموات.

اللهم أعز الإسلام و المسلمين و أهلك الكفرة و المشركين و دمر أعداءك أعداء الدين

اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا، و أصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا و أصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا و اجعل اللهم حياتنا زيادة لنا في كل خير و اجعل الموت راحة لنا من كل شر

اللهم أعنا على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك

اللهم إنا نسألك الهدى و التقى و العفاف و الغنى و حسن الخاتمة

اللهم اغفر لنا و اوالدينا و ارحمهم كما ربونا صغارا

ربنا هب لنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين و احعلنا للمتقين إماما

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا و هب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة و في الآخرة حسنة و قنا عذاب النار

عباد الله إن الله يأمركم بالعدل و الإحسان و إيتاء ذى القربى و ينهى عن الفحشاء و المنكر و البغي يعظكم لعلكم تذكرون فاذكروا الله العظيم يذكركم و اسألوه من فضله يعطكم و لذكر الله أكبر و الله يعلم ما تصنعون.
Read more

Senin, 19 September 2016

UPACARA ADAT BERSIH DESA SEBAGAI WARISAN LELUHUR


Budaya adalah bagian dari sebuah masyararakat. Masyarakat yang tinggal di daerah tertentu pasti mempunyai budaya atau tradisi yang di yakini dan dipegang. Budaya dan tradisi itu biasanya dipercaya turun temurun oleh suatu masyarakat yang tinggal di dalamnya. Tradisi diturunkan dari orang tua kepada anak-anaknya dengan harapan anak-anaknya mewarisi atau melakukan tradisi yang sama. Sama halnya dengan upacara bersih desa atau yang dikenal dengan istilah Rasulan. Bersih desa atau rasulan ini adalah sebuah upacara atau rangkaian proses sebagai perwujudan syukur atas hasil panen yang melimpah. Upacara ini juga tidak jelas apa latar belakang dan darimana datangnya namun sampai saat ini masih di lakukan oleh warga di beberapa daerah seperti di Yogyakarta .

Upacara ini terus dilakukan satu tahun sekali agar hasil panen tahun depan terus meningkat dan para warganya terhindar dari malapetaka. Dengan upacara kita menemukan nilai-nilai masyarakat yang tak dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari, upacara senantiasa mengingatkan manusia tentang eksistensi mereka dan hubungan mereka dengan lingkungan, hubungan masyarakat dengan masyarakat, karena melalui upacara warga masyarakat dibiasakan untuk menggunakan simbol-simbol yang bersifat abstrak yang berada pada tingkat pemikiran di berbagai kegiatan sosial. ( Soetarno, 2002 ) .


Download Makalah Full Versionnya
http://www.4shared.com/office/Rbssy693ba/UPACARA_ADAT_BERSIH_DESA_SEBAG.html


Read more

MEMAKNAI HIJRAH DALAM ISLAM

Sejarah awal tahun Hijriah adalah berawal dari seorang tokoh yaitu Abu Musa Al-Asyari. Beliau adalah seorang Gubernur dimasa Khalifah Umar Bin Khattab ra, beliau diutus khalifah Umar untuk membuat kalender Hijriah, tapi hanya tertera tanggal dan bulan sehingga membingungkan. Kemudian Amirul Mukminin mengumpulkan beberapa para sahabat diantarannya adalah Ustman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, Abdurrahman bia Auf ra, Sa’ad bin Abi Waqas ra, Zubair bin Awwam ra, dan Thalhah bin Ubaidillah ra, untuk memusyawarahkan tentang penanggalan islam, ada yang mengusulkan kalender islam ditetapkan berdasarkan kelahiran Rasulullah SAW, ada juga berdasarkan Pengangkatan Nabi Muhammad Saw menjadi Rasul atau wafatnya  Rasulullah SAW.
Kemudian telah disepakati bersama berdasarkan usulan Ali bin Abi Thalib ra bahwa penetapan pertama kalender islam adalah berdasarkan Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah.
Bulan Muharram dapat diartikan juga sebagai tahun baru  Hijriah  bagi kaum Muslimin, dimana pada tahun ini kita sebagai umat Muslim harus lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya dengan pengertian lain bahwa tahun Hijriah adalah bulan peningkatan kualitas ibadah serta bulan pensucian diri, tetapi menurut worldview orang Jawa yang masih percaya dengan kesakralan bulan ini mereka menyebut sebagai bulan syuro yang penuh dengan keajaiban-keajaiban yang diyakini turun pada malam ini dengan prinsip mereka yaitu “Manunggaling Kawulo Gusti”.
Kepercayaan-kepercayaan mereka tidak dapat terkikis dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang sangat maju karena kepercayaan ini sudah mendarah daging dalam diri mereka, semoga kita termasuk orang-orang terhindar dari hal ini amin ya robbal alamin.
Maka dari itu kita harus benar-benar megetahui hakikat siapa sebenarnya kita apakah Muslim benar-benar sebagai jati diri kita ataukah hanya sekedar sebagai identitas saja, mari kita memaknai hakikat Hijrah dalam islam berdasarkan hadist berikut ini :
صح في الصحيحين ان النبي صلي الله عليه وسلم قال :" المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده والمهاجرمن هجر ما نهى الله عنه."
Berdasarkan hadits diatas dapat disimpulkan bahwa orang yang dikatakan Muslim sejati adalah
•    Orang yang kata-katanya didengar enak
•    Orang yang perkataannya bermanfaat
•    Orang yang perkataannya menyelamatkan
•    Orang yang perkataannya tidak menyakitkan
•    Orang yang perbuatannya tidak membahayakan
•    Orang yang perbuatannya bermanfaat bagi orang lain
Jadi orang  yang  benar-benar muslim harus tercipta dalam hatinya iman, islam dan ihsan yang saling berelasi dengan kuat dan harus bersih dari hal-hal yang merusak iman, islam dan ihsan.
Pada hakikatnya berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan larangan-larangan dari Allah SWT, esensi Hijrah bukanlah sekedar eksodus umat islam Makkah menuju Madinah melainkan untuk upaya penyelamatan ideologi bersama  dari serangan kaum kafir makkah.
Semoga ditahun baru Hijriah ini semangat berjuang kita untuk beribadah kepada Allah SWT semakin meningkat dan semoga di tahun ini kita lebih baik di banding dengan tahun Hijriah yang lalu amin ya robbal alamin....
Read more